Welcome to Indonesian Expat Dot Com

A warm welcome to all of you!

Those who have been 'following' us since January 2008 might know that we have just recently moved from http://indonesianexpat.wordpress.com. For the past 8 months we have received lots of comments, questions, suggestions, ideas, even articles, from all of you who participate in this forum. Therefore we are quite confident that this trend will continue in the future.

Those of you who have just landed here, welcome to Indonesian Expat Dot Com. Our mission is to inspire your success living in a foreign country by providing you this website to share stories, network globally, and find the best resources which hopefully will help your journey overseas.

 

Am I An Expatriate?

Contrary to what people think, the term 'expat' doesn't only mean somebody who makes money abroad. Pinched the definition from Wikipedia, an expatriate (in abbreviated form, expat) is a person temporarily or permanently residing in a country and culture other than that of the person's upbringing or legal residence. So you could be a student, a partner, a spouse, a relative, a traveler, a worker, or a professional. As long as you are living in a foreign country, you're an expat.

Relax, even if you don't fall into those above categories, you could always visit us and use the information we have here.

Since we understand there are several phases in the adventure of being an expatriate, we try to categorise them into three: Going Abroad, Being Expat, and Returning Home. This hopefully will help you to find information you look for quickly.

  • Going Abroad" phase would be the first step we encounter when we prepare our journey. It can start from finding a right university for a student, finding an agent for a professional, arranging a visa and other legal documents, arranging the moving, choosing airline tickets and travel agents, and so on.
  • Being Expat phase would be the actual step where we have landed in our adopted country and face everyday's challenge, from weather, languange, culture shock, custom and so on. We try provide information as much as we could gather to help you here.
  • Returning Home phase would be the last step when you finish your contract or study and must go back to Indonesia. We always think we don't need to to prepare anything since we are going back to our own home country. But no, we are going to experience what expert calls a 'reversed culture shock', especially if we have had lived in a foreign country for a long period of time. We also need to many things before leaving like packing and sending things back, selling our assets (from furniture, car, even house), we might have to find schools for our children, house to live temporarily, and so on.

 

Why English?

Although Indonesian Expat Dot Com focuses on Indonesians who are about to go abroad, currently living overseas, and about to return home, we belive information we provide here can be useful for anyone who is in the similar situation, and we always welcome those non-Indonesians who have valuable information to share too.

Plus one of the key of our success journey is to learn our adopted country's language, and usually it would be English. 

We don't stop you to comment on articles in Indonesian, but we strongly encourage you to stick with English so those who don't speak Indonesian can help us finding the right answer or involve in the discussion.

 Your Participation Is Needed!

Yes, definitely! This forum is about us, from us and for all of us. Everybody can use the information, everybody can participate in the discussion, everybody can share their experience, and hopefully we could learn something. Just keep clicking away to find categories suitable for you and don't be shy to voice your thoughts.

 

I guess it's time for us to say thank you very much for your kind participation and see you in the discussion very soon!

 

Regards,

Moderator

 

 

swish tuned

hutch jd the class Tetracycline reduce sang imbibe

Perangkap "Imigrasi ke Kanada"

Halo,
Saya orang Italia yang lahir di Perancis, baru belajar bahasa Indonesia. Pada tahun 1999, saya datang ke negeri Kanada, di mana saya mengalami banyak kesulitan secara turus-menurus. Saya sudah menulis sebuah karangan tentang hidup saya, tetapi karangan itu sangat panjang, maka saya hanya memasang bagian yang terakhir, yaitu pengalaman hidup saya di Kanada. Selamat membaca.

PENGALAMAN HIDUP SAYA (bagian)

.... Pada tahun 1998 nilai tanah hak milik di Perancis masih rendah, (harga rumah batu di Perancis sepersepuluh dari harga rumah papan di Kanada), jadi kami dapat membeli sebuah rumah yang sangat elok dikelilingi gunung dan danau. Halaman rumah itu sangat besar. Pada masa itu saya sangat gembira dan bisa melupakan semua kesulitan dan penderitaan yang telah kami alami selama berada di Hong Kong. Saya diberkati Tuhan, merasa sangat bahagia dan senang sekali tinggal di tempat yang suasananya seperti Surga.

Tetapi kebahagiaan ini tidak berlangsung lama. Seperti cangkir tanah lihat harus dibakar dua kali, kami akan kembali mengalami penderitaan yang jauh lebih kuat daripada apa yang kami telah alami. Saya akan mengetahui apa yang berarti “diuji kemurniannya dengan api”, dan saya juga akan mengalami di dalam keluarga saya apa yang Yesus katakan dalam Injil Matius:

“Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.”(Matius 10: 35-36)

Dengan segera isteri saya menjadi tidak senang dengan ayah dan ibu saya yang selalu datang ke rumah kami tanpa diundang, dan selalu memerintahkan kami untuk melakukan hal-hal menurut kehendak mereka, maka tiga bulan kemudian saya terpaksa menjual rumah tersebut dan kembali ke Hongkong, dengan tujuan mengajukan permohonan migrasi ke Kanada. Alasannya adalah isteri saya merindukan neneknya dan lebih menyayangi ibunya yang menetap di Kanada daripada suaminya sendiri. Keputusan kami itu adalah keputusan yang paling buruk yang pernah kami ambil, dan kami akan menderita akibatnya yang dahsyat. Pada bulan Mei 1999 kami tiba di Toronto. Kakak dan ibu isteri saya tinggal di sebuah rumah yang sangat besar, tetapi mereka tidak mau menerima kami, sehingga kami terpaksa tinggal di motel di kota Stouffville. Kamar motel tersebut sangat kecil, tidak ada cahaya matahari, udara sangat kotor oleh rokok dan alkohol. Betapa saya terkejut oleh suasana dan lingkungan Toronto dan kebudayaan Amerika Utara! Mobil yang besar dan jelek, banyak rumah makanan cepat saji di mana makanan diambil melalui jendela mobil, orang Amerika menjalankan mobilnya bahkan di dalam pekuburan!.. Semua jalan lurus dan paralel, membuat iklan lewat telpon, rumah-rumah papan dibuat dengan debu kayu yang dijual berjuta-juta dolar, dan kengerian-kengerian lainnya... inilah kebudayaan Amerika !.. Waktu saya berpikir tentang kampung saya di Italia, saya merasa betapa buruk kebudayaan Amerika !..

Lima hari kemudian saya memberitahukan isteri saya bahwa saya tidak suka tinggal di Kanada, tetapi isteri saya tetap tidak mau meninggalkan kota Toronto. Ia mengatakan: “Kalau kamu tidak mau tinggal di sini, kamu tidak cinta padaku!”, kemudian kami mencoba mencari sebuah rumah, tetapi semua rumah di Amerika utara, termasuk yang dijual untuk jutaan dolar adalah barak papan yang tidak cocok untuk kami, karena kami ingin mengubah bagian dari rumah menjadi studio rekaman. Saya berdoa, juga berpuasa selama 40 hari. Selama berpuasa, saya tidak makan apapun, hanya minum air putih saja, tetapi doa saya tidak dikabulkan, kami menetap di motel dari tahun 1999 hingga tahun 2004. Akhirnya, kami harus menyewa sebuah rumah, supaya kami bisa mengambil barang-barang kami, termasuk piano-piano besar dan alat-alat perekam suara yang disimpan di sebuah gudang yang mahal sewanya, di mana kami tinggal selama 14 bulan. Pada waktu itu saya menyadari bahwa CD-CD yang saya menghasilkan sudah dipalsukan di Eropa, dan banyak CD palsu sudah dijual di semua Eropa. Saya mencoba mencari bantuan dengan sia-sia, hal yang menyebabkan saya mehilangkan lebih banyak uang. Pemerintah juga tidak mau melakukan apapun untuk membantu saya. Saya merasa seperti hidup saya terkutuk, karena selama hidup saya, saya terus-menurus mengalami kesulitan yang hebat. Tanpa tergantung dengan kerajinan saya, saya tidak pernah bisa mendapat hasil apa-apa dari pekerjaan saya, karena saya selalu ditipu atau dicuri orang. Bukan saja begitu, tetapi juga waktu saya menghadiahkan CD kepada orang dan membantu orang dengan sukarela untuk mempersahabatkan dengan mereka, sebagai ganti persahabatan, saya menerima penolakan, bahkan dari teman segereja.

Berhubung rumah di mana kami tinggal terlalu mahal sewanya, kami pindah ke rumah lain yang sewanya sedikit lebih murah. Sebuah piano besar dan barang-barang lain milik kami telah dijual termasuk dana yang kami tarik dari semua kartu kredit juga kartu kredit dari Hongkong untuk membayar biaya sewa rumah. Akibatnya pada bulan Juli tahun 2007, kami diusir oleh pemilik rumah, dan kami tinggal dengan seorang teman yang cukup baik hati untuk menerima kami di rumahnya, hingga kami bisa mendapat bantuan sosial, karena kami bukan saja kehilangan harta benda, tetapi juga kehilangan kesehatan, sedangkan kepercayaan saya diuji oleh percobaan yang panjang dan sangat keras. Akan tetapi di dalam penderitaan itu, Tuhan membagi kepada saya perasaanNya yang terdalam. Waktu saya berpikir tentang keadaan seluruh keluarga yang sangat buruk karena kesalahan dan masalah yang berlangsung sejak waktu yang lama, saya mengerti perasaan Tuhan terhadap bangsa Israel yang mengalami penderitaan karena tidak percaya kepadaNya dan tidak mentaati perintahNya. Saya sadar betapa berharga karunia yang Tuhan berikan ini kepada saya, karena saya harus mengalami kesulitan yang sangat kuat dan sangat panjang supaya saya dapat menerima dan mengerti perasaanNya.

Berhubung saya tidak senang dengan kebudayaan Amerika Utara, saya mencoba sebaik-baiknya melarikan diri dari keadaan itu dengan masuk ke dalam kelompok orang asing. Ini menyebabkan saya membuang banyak waktu dan uang untuk transportasi. Untuk pergi ke gereja, saya perlu menyetir sejauh 40 kilometer. Kehidupan di Amerika Utara demikian adanya, orang Amerika hidup di dalam mobil. Karena saya senang dengan bahasa Cantonese, saya selalu pergi ke pusat belanja orang Cina dan datang ke gereja orang Cina. Kemudian saya pergi ke gereja orang Korea, dan mulai belajar bahasa Korea. Akhirnya pada tahun 2008, saya datang ke gereja orang Indonesia. Alasannya adalah dulu saya pernah memiliki kesempatan untuk pergi ke Malaysia, dan saya sangat senang dengan lingkungan, bahasa, dan kebudayaan itu. Ada banyak orang yang ingin tahu mengapa saya tertarik untuk belajar bahasa Indonesia. Saya sulit menjawab pertanyaan ini, karena saya sendiri sebenarnya tidak tahu alasannya dengan sepenuhnya. Rupanya itu adalah kehendak Tuhan, tetapi saya seperti semua orang di dunia ini tidak mengerti jalan-jalan-Nya. “...dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Rom. 11:33)

Ceritanya sangat panjang. Pada tahun 1994 ketika saya tinggal di Hongkong, saya mempunyai kesempatan untuk pergi ke Malaysia selama dua minggu. Waktu itu saya belajar beberapa kata bahasa Malaysia sebelum pergi ke kota Ipoh di daerah Perak dan ke Pulau Pinang. Saya senang tinggal di tempat itu. Ketika saya kembali ke Hongkong, saya membeli beberapa buku bahasa Malaysia dan Indonesia, bersama kamus untuk belajar bahasa tersebut. Kemudian saya pergi ke konsulat Malaysia di Hongkong untuk mendapatkan informasi tentang kesempatan berdiam di Malaysia, tetapi saya tidak mendapat respon yang baik, sehingga keinginan untuk belajar bahasa Malaysia dan Indonesia tertunda selama 14 tahun lamanya.

Setelah 14 tahun lamanya, pada tahun 2007, saya mengenal seseorang yang berbicara bahasa Malaysia. Hal itu cukup menimbulkan keinginan yang sudah terpendam di dalam ingatan saya selama 14 tahun ini. Saya senang berbicara dengan orang itu, jadi saya mulai belajar lagi dari buku yang saya beli di Hongkong. Disamping itu saya juga mengenal seorang Indonesia yang tinggal di daerah di mana saat ini saya tinggal.

Pada suatu hari, saya menemukan di dalam halaman situs satu gereja di Jakarta. Karena saya sedang mempunyai masalah, saya mencoba mengisi formulir konsultasinya yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Saat itulah untuk pertama kalinya saya mengirim surat elektronik dalam bahasa Indonesia. Keesokan harinya saya menerima surat elektronik sebagai berikut:

Dear Marc,
Apa khabar? Semoga Kristus besertamu.
Saya ikut sedih atas peristiwa yang menimpa Marc. Saya di sini Tim S. berdoa bersama agar Marc diberikan jalan keluar terbaik. Semoga Marc bisa pergi ke Indonesia.
Tuhan memberkati.
Salam,
Tim S.

Saya senang sekali menerima surat itu, karena surat itu adalah surat pertama yang saya terima dalam bahasa Indonesia.

Kemudian saya melihat di dalam halaman situs itu bahwa ada gereja-gereja orang Indonesia di Toronto. Saya segera mengunjungi gereja tersebut. Saya senang sekali berbicara dengan orang-orang Indonesia yang menjadi anggota gereja tersebut. Kemudian saya diberikan kesempatan untuk belajar bahasa Indonesia di Konsulat Jendral Republik Indonesia di Toronto beberapa kali selama enam bulan, kemudian saya harus kembali melanjutkan untuk belajar sendiri. Waktu saya mengikuti kursus bahasa Indonesia di Konsulat, saya mengenal guru yang baik, yang memberitahukan saya bahwa di Toronto ada sebuah gereja Umat Katolik Indonesia, maka saya mulai menghadiri gereja itu. Saya juga senang mengikuti paduan suara dan acara-acara lainya, seperti mengunjungi orang sakit di rumah sakit atau di rumah jompo. Saya mengingat ayat Yakobus 1:27 :

“Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” (Yakobus 1:27)

Meskipun saya orang yang sedang mengalami banyak kesulitan, namun saya adalah orang yang suka membantu orang lain. Akan tetapi seperti banyak orang yang bekerja untuk menyebarkan Injil telah mengetahui, yang paling memberikan kesulitan dan halangan pada orang yang bekerja dengan Tuhan bukanlah musuh, bukan apapun yang kekurangan, bukan sebuah penyakit, bukan aniaya, tetapi adalah kesusahan yang disebabkan oleh sesama!

Di antara semua penderitaan yang saya alami sejak saya lahir, yang paling menyakitkan adalah penderitaan yang saya alami selama 10 tahun di Toronto. Saya tidak dapat menyesuaikan diri dengan bahasa maupun kebudayaan Benua Amerika Utara, termasuk lingkungan Toronto, tetapi yang paling menyakitkan adalah penderitaan terpaksa untuk hidup seperti seorang tahanan dengan seorang istri yang meledak jika tersentu, dengan siapa saya bahkan tidak bisa menyeberang mataku.

Meskipun kehidupan di Toronto tidak menarik, namun masih saja banyak orang yang mengajukan permohonan migrasi ke Kanada, terutama orang dari Asia. Saya dahulu tidak mengerti mengapa mereka suka tinggal di Kanada, tetapi setelah saya berbicara dengan mereka, saya mengetahui bahwa kebanyakan orang suka berimigrasi ke negeri lain karena kurs nilai tukar yang sangat berfaedah pada mereka yang mengirim uang ke Asia. Selain itu, mereka pilih berimigrasi ke Benua Amerika Utara atau Selanda Baru karena mereka senang berbahasa Inggris.

Ada banyak orang yang meninggalkan negerinya, sanaknya, teman-temannya, pekerjaannya, dan lain-lainnya untuk pergi ke tempat di mana kondisi kerja dan keuangan tampaknya lebih baik. Ada banyak orang, termasuk orang kristen, yang pikir dan hidup seperti yang terpenting dalam hidup adalah mengumpulkan uang. Mereka ikut-ikutan agama duniawi, yaitu hidup secara menjamin keamanan diri sendiri. Oleh sebab itu, kehidupan orang manusia terdiri dari mencari pendidikan yang baik, diploma yang diakui di mana-mana, jabatan, pensiun, asuransi jiwa, dan lain-lainya. Hal-hal itu sendiri tidak buruk, tetapi kalau orang lebih suka mempercayakan diri kepada kekayaannya daripada hidup oleh iman, orang itu masih hidup dalam dosa, dan akan jatuh.

“Siapa mempercayakan diri kepada kekayaannya akan jatuh; tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda.” (Amsal 11:28)

Hal itu menyebabkan saya merenungkan kata-kata Yesus tentang orang yang mendirikan rumahnya di atas pasir berlawanan orang yang mendirikan rumahnya di atas batu. Menurut Alkitab, akan datang waktunya semua orang manusia akan memiliki kesempatan untuk hidup damai, tetapi terhadap masa yang akan datang itu ada tertulis:

“Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin--mereka pasti tidak akan luput.” (1 Tesalonika 5:3)

Meskipun banyak orang kristen sadar akan bahaya itu, namun mereka masih hidup seperti burung unta, saat ada bahaya, mereka menyurukkan kepalanya di dalam pasir. Meskipun kebanyakan orang suka hidup secara begitu, namun masih ada orang yang menyadari bahwa kehidupannya di atas bumi sangat pendek, dibandingkan dengan hidup yang kekal. Orang itu menghargai waktu lebih daripada emas. Hal itu adalah salah satu penyebab yang menyebabkan saya tidak senang di Kanada, negeri mana orang membuang terbanyak waktu dalam mobilnya, daripada semua negeri lain. Banyak orang mehilangkan tiga jam setiap hari untuk pergi ke tempat kerja, terjebak dalam lalu lintas. Oleh sebab nilai perumahan yang keterlaluan, banyak orang bekerja hanya untuk bayar biaya sewa rumahnya dan transportasi ke tempat kerja!

Saya orang yang lebih suka kehidupan yang lebih tenang di tempat di mana kebudayaannya dan alam membibinkan saya bisa merasakan dan menfahami kekuatan Tuhan yang kekal dan keilahian-Nya melalui ciptaan-Nya, di mana orang yang baik hati hidup damai dengan kasih-sayang.

Terhadap kebudayaan Amerika Utara mencakup kehidupan di mobil, orang Amerika menarik dan menabung uang, juga membeli makanan tanpa turun dari mobilnya. Mereka makan dan menonton televisi dalam mobil. Di Amerika Utara, rumah merupakan barang mewah, sehingga orang Amerika menjadi terbiasa hidup di mobil. Bahkan ada orang yang memesan kamar di motel, kemudian bersetubuh dalam mobil atau truk di tempat parkir motel itu!

Saya sadar bahwa tidak semua orang membenci kebudayaan Amerika Utara seperti saya, tetapi saya tidak mengerti bagaimana orang asing setuju untuk hidup di tengah-tengah kebudayaan yang begitu buruk, hanya untuk melihat lebih banyak uang melintas di depan katanya. Mungkin pendapatan orang yang tinggal di Amerika lebih tinggi daripada pendapatan orang yang tinggal di sebuah pulau kecil yang terletak di tengah-tengah Lautan Pasifik, tetapi apa gunanya kalau pendapatannya hanya cukup untuk menutrisi pemilik rumahnya dan mobilnya?

“Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya?” (Pengkhotbah 5:11)

Di antar orang yang berimigrasi ke negeri asing, banyak mengalami kesulitan, tetapi hanya orang yang rendah hati mengakuinya. Setelah ada kesempatan, mereka balik kampungnya, atau pergi ke tempat lain. Adapun saya ingin pindah ke negeri lain, tetapi sekarang saya tidak mampu melarikan diri sendiri dari Toronto untuk pergi kemanapun, karena saya tidak punya sanak keluarga atau teman di mana saya dapat menetap untuk sementara, saat saya menemukan jalan kehidupan yang baru. Namun saya memohon untuk dapat meninggalkan Kanada secepat mungkin, untuk pergi ke Asia ataupun Eropa, jauh dari kebudayaan Benua Amerika Utara.

Hal ini menyebabkan saya untuk merenungkan tentang iman saya kepada Tuhan. Saya menyadari bahwa Tuhan sudah mengubah hati saya, karena saya sudah menghilangkan hampir semua cita-cita yang dahulu menduduki hati saya, maka sekarang saya tidak lagi mendahulukan segala keinginan-keinginan hati saya sendiri untuk menikmati hidup duniawi. Sebaliknya, saya sekarang makin tertarik untuk menjalani kehidupan yang berarti dan yang menggembirakan Tuhan. Akan tetapi untuk hidup oleh iman, kita harus berjalan satu langkah pada satu waktu, karena kita hanya diberikan cahaya yang cukup untuk lihat begitu jauh saja. Kita harus berani untuk berjalan langkah yang pertama, dan percaya bahwa Tuhan akan menemani kita sepanjang perjalanan kita...

bran crone

W e _ a r e _ v e r y _ s o r r y _ f o r _ a n y _ i n c o n v i n i e n c e _ c a u s e d _ t o _ y o u _ b y _ o u r _ m e s s a g e . W e _ w e r e _ s e e k i n g _ f o r _ o l d _ " n o b o d y ' s " _ w e b s i t e s . _ I f _ i t ' s _ a _ m i s t a k e _ a n d _ w e _ d i s t u r b e d _ y o u , _ p l e a s e _ d e l e t e _ o u r _ m e s s a g e , _ a n d _ w e ' l l _ n e v e r _ r e t u r n _ h e r e . O n e _ m o r e _ t i m e , _ s o r r y _ f o r _ a n y _ t r o u b l e s _ t h a t _ w e ' v e _ c a u s e d _ b y _ o u r _ a c t i v i t y . 20mg cialis

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.